Persediaan Alat Dan Bahan Cek Medis Suspect Covid 19 Kalbar Sisa Seminggu

0 91

INIBORNEO.COM, Pontianak – Persediaan alat, bahan serta reagent untuk pemeriksaan pasien yang diduga Covid-19 bersisa seminggu ke depan. Termasuk pula alat perlindungan diri petugas medis dan virus transport media.

“Kalau tidak segera dipenuhi dari Jakarta, akan membahayakan petugas medis di lapangan,” tukas Harrison, kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Barat, kepada Tempo, 11 Maret 2020.

Hal lainnya, adalah ketersediaan ruang isolasi yang jauh dari cukup. Dari empat rumah sakit rujukan pemerintah di Kalimantan Barat, tidak lebih dari empat ruangan isolasi yang tersedia.

“Bahkan, rumah sakit Agoesdjam belum memiliki ruangan isolasi atau untuk menangani emergency disease,” katanya. RSUD Soedarso di Pontianak hanya memiliki 4 ruangan, RS Abdul Azis 2 ruangan, demikian pula dengan RS Ade M Joen. Sedangkan RSUD Agoesdjam pun baru ditunjuk oleh Kemenkes sebagai rumah sakit rujukan.

Penunjukan dilakukan setelah seorang warga asing, dirujuk untuk diperiksa kesehatannya. Peningkatan fasilitas untuk ruangan isolasi ini dikatakan Harrison menjadi hal yang mendesak lantaran saat ini Brunei Darussalam terkonfirmasi kasus Covid-19.

“Jika sudah sampai Brunei, bisa sampai Sarawak Malaysia, dan masuk ke Indonesia,” ujarnya. Mengingat, Kalimantan Barat berbatasan darat dengan negara tersebut. Ruang isolasi yang ada pun belum benar-benar memenuhi standar ruang isolasi yang ada.

“Maka alat pelindung diri, VTM, dan reagent benar-benar dibutuhkan,” kata Harrison.

Hingga Rabu ini, Kalbar telah mengirimkan 13 sampel untuk diperiksa ke Jakarta. Pengiriman sampel dilakukan, lantaran Kalbar belum memiliki Balai Teknik kesehatan lingkungan.

Dari 13 sampel tersebut, 10 diantaranya telah dinyatakan negatif. Masih ada tiga sampel yang menunggu hasil pemeriksaan, dari tiga orang yang menjalani observasi.

Pemeriksaan yang dilakukan ke Jakarta memerlukan waktu tiga hingga empat hari, sebelum mendapatkan hasil. Kondisi ini menyebabkan pasien mengalami length of stay yang lebih lama di ruang isolasi.

“Karena keterbatasan ruangan, pasien lain pun harus menunggu jika ruangan penuh,” katanya. Dia mengharapkan pemerintah bisa mendrop alat, dan bahan untuk menguji ke rumah sakit rujukan di Indonesia.

Di sisi lain, sumber daya manusia petugas medis di Kalbar sudah mumpuni. Masing-masing rumah sakit rujukan sudah mempunyai dokter spesialis, seperti dokter paru, dan penyakit dalam.

Comments
Loading...