Menyaksikan Cahaya Keemasan di Gurun Sahara

Menyeberangi Selat Giblartar dari Spanyol Menuju Maroko

0 332

Dua perempuan muda, melintas benua menempuh perjalanan hingga ke Afrika. Arum Puspita dan Dewi, dua pegawai negeri sipil yang senang bepergian ini menjajal pengalaman mengunjungi sebuah negara bekas jajahan Prancis di bagian utara Afrika, Maroko.

Keduanya ingin melihat langsung, keindahan Sahara. Gurun atau padang pasir yang terletak di Kota Merzouga. Jaraknya sekitar 450 kilometer dari kota Marakesh. Gurun seluas 250 kilometer persegi, terhampai hingga ke perbatasan Algeria.

Perjalanan ke Maroko ini saya lakukan melalui jalut darat dan laut dimulai dari kota Sevilla. Kota ini berada dibagian selatan Spanyol yang merupakan bagian dari wilayah Andalusia.Kota di mana Islam pernah Berjaya puluhan abad yang lalu. Maroko merupakan salah satu negara di ujung utara benua Afrika, dimana hanya dipisahkan oleh selat Giblartar dengan benua Eropa. Melalui selat Giblartar inilah langkah kaki saya di negara berjuluk Al Magribi ini dimulai.

Sebelum melakukan perjalanan ini tentu saya melakukan riset terlebih dahulu. Pasti sudah banyak sekali teman-teman saya atau siapapun yang sudah berkunjung ke Maroko. Tapi sebagian besar atau bisa dikatakan semua dilakukan dengan menggunakan pesawat terbang. Tidak satu pun dari teman saya yang bisa saya mintain keterangannya mengenai hal ini.

Satu-satunya informasi mengenai perjalanan ke Maroko melalui Spanyol saya dapatkan melalui situs Trip Advisor. Berbekal informasi dari situs tersebutlah saya memberanikan diri untuk memasuki Maroko melalui jalur darat dan laut.Penyeberangan dari Spanyol menuju Maroko bisa dilakukan melalui dua pelabuhan yaitu Tarifa dan Algeciras menuju kota Tangier Maroko.

Dari Sevilla menuju Algeciras, ada beberapa transportasi yang bisa kita pilih. Kita bisa menggunakan Blablacar, semacam tumpangan mobil. Waktu tempuh sekitar 2.5 jam dan biaya cukup murah mulai dari 8 eur/person. Kita juga bisa memilih menggunakan bus. Waktu tempuh sekitar 3.5 jam dan biaya mulai dari 19 eur. Pilihan lainnya adalah kereta. Namun, transportasi ini kurang praktis karena transit ke Cordoba dulu (bolak balik) dan pasti harganya lebih mahal.

Saya sendiri memilih naik bus. Ada beberapa operator bus yang bisa kita pilih untuk menuju Algeciras. Yang saya ingat hanya Valenzuela dan TG Comes. Tiket bus bisa dibeli on the spot di terminal Pardo de San Sebastian. Harga tiket antara Valenzuela dan TG Comes ga beda jauh, 19 eur untuk Valenzuela dan 21 eur untuk TG Comes.

Waktu itu saya memilih TG Comes karena waktu keberangkatan lebih cepat 30 menit dibanding Valenzuela. Bus TG Comes yang saya naiki meninggalkan terminal Pardo de San Sebastian tepat pukul 9.30. Selama perjalanan menuju Algeciras saya disuguhi pemandangan yang cukup cantik dan cukup memabukkan karena jalur yang berliku-liku. Buat yang sering mabuk perjalanan tidak ada salahnya untuk mempersiapkan kantong muntah selama perjalanan.

Akhirnya bus sampai di terminal Algeciras tepat pukul 13.00. Dari terminal kita cukup berjalan kaki untuk menuju pelabuhan selama kurang lebih 15 menit. Sampai pelabuhan kita langsung menuju loket penjualan tiket. Saat itu kapal jurusan Tangier yang paling cepat akan berangkat adalah pukul 16.00. Tiket saya beli seharga 32 eur dengan operator kapal bernama Balearia.

Setengah jam sebelum keberangkatan, pintu boarding dibuka. Kami masuk dan melewati imigrasi untuk keluar dari wilayah Spanyol (Schengen). Di dalam kapal, kami pun kembali menuju tempat imigrasi, kali ini adalah imigrasi untuk masuk wilayah Maroko. FYI, bagi kita warga negara Indonesia tidak memerlukan visa untuk masuk ke Maroko. Saat itu petugas imigrasi sempat membuka kertas contekan (yang isinya daftar negara bebas visa ke Maroko) karena sepertinya tidak yakin kalau saya tidak perlu visa untuk masuk Maroko , maklumlah mungkin karena sangat jarang orang Indonesia masuk Maroko melalui Tangier.

Sekitar pukul 17.00 lebih kapal tiba di pelabuhan Tangier. Penumpang turun dan dibawa ke pelabuhan Tangier Med dengan menggunakan bus. Setibanya di pelabuhan Tangier Med, kami pun langsung dikerubuti calo-calo taksi. Calo-calo tersebut sangat agresif bahkan sampai ada yang bertengkar memperebutkan saya. Berbekal info bahwa harus selalu hati-hati dengan segala penawaran bantuan di Maroko, maka saya langsung memasang tampang meyakinkan sok pede dan sok paham tentang Maroko ini biar tidak terlihat bingung.

Akhirnya berdasarkan tips menawar taksi yang saya dapatkan dari Trip Advisor, akhirnya saya berhasil deal dengan salah satu calo, sewa taksi dari pelabuhan ke kota Tangier dengan harga 12 eur dari tawaran awal 20 eur. Berdasarkan tips yang saya baca, wajarnya harga taksi adalah 2.2 dirham/kilometer atau sekitar 2 eur /km.

Jarak dari pelabuhan ke Kota Tangier sekitar 50 kilometer. Karena tujuan saya sebenarnya adalah kota Fes, maka sopir taksi mengantar saya ke terminal bus Tangier. Di situ saya membeli tiket bus menuju kota Fes dengan harga 80 dirham (sekitar 8 eur). Bus berangkat pukul 21.00 dan menurut petunjuk seorang pria yang waktu itu menolong saya membeli tiket bus, bus akan sampai di Kota Fes sekitar jam 04.00.

Saya pikir bus yang saya naiki jurusan akhirnya adalah kota Fes. Jadi begitu naik bus saya langsung tidur dan berharap pas bangun udah sampai terminal di Fes. Sekitar jam 03.00 saya bangun, cek Gmaps dan kata Gmaps kota Fes masih sekitar 1.5 jam lagi. Kemudin tidur lagi dan sekitar jam 5 bangun lagi dan untuk maps lagi.

Ternyata berdasarkan info dari Gmaps, kota Fes sudah terlewat sekitar 93 kilometer. Waah gawat pikir saya, jangan-jangan salah jurusan. Atau jangan-jangan kelewatan tadi pas sampe Fes saya tidur. Saya seketika langsung bangun saya bilang ke pak sopir dengan bahasa tubuh. Secara orang Maroko cuma bisa bahasa Arab dan Perancis, sedang saya bisanya bahasa Indonesia dan bahasa jawa.

Pokoknya waktu itu saya cuma bilang mau ke Fes, sambil tunjuk2 gugel maps.Untung bapak supir, dibantu beberapa penumpang paham apa yang saya mau. Kemudian saya suruh turun, ditengah gelap gulita. Hari masih sangat gelap, saat itu sekitar pukul 5 pagi waktu setempat. Ditengah dinginnya pagi yang menusuk tulang, dan di tempat antah barantah, entah di Maroko bagian mana saya diturunkan. Tapi sebenarnya tidak diturunkan begitu saja. Saya dicarikan bus pengganti yang menuju Fes.

Okelah, saya nurut apa kata mereka saja meskipun waktu itu saya juga masih ragu apa benar bus yang saya naiki kemudian akan membawa saya menuju kota Fes. Sepanjang jalan di bus pengganti saya selalu memperhatikan gugel maps, takut nyasar lagi. Alhamdulillah kami berada di bus yang benar. Sejam kemudian sampailah kami di Kota Fes. Horeee…. Pengen sujud syukur saking leganya haha (lebay).

Cerita kota Fes skip aja ya, kan judul tulisan ini tentang Sahara. Di kota ini cuma jalan-jalan ke pasar yg femes itu aja. Beli-beli magnet sama nyobain kafe hits. Trus juga ikut tour ke Chefchouan, kota biru yang cantik sekali di Maroko utara.

Dari kota Fes, tadinya kami akan langsung menuju kota Marrakesh dan ikut tur Sahara dari Marrakesh saja. Tapi karena waktu kita terbatas. Tak lain waktu terbuang sehari gara-gara ketinggalan blablacar jadi sampe Maroko malem, harusnya pagi. Kami memutuskan untuk mengikuti tour Sahara dari kota Fes saja dan dari Sahara kita akan langsung diantar ke kota Marrakesh.

Banyak operator yang menjual paket tour Sahara baik dari kota Marrakesh maupun Fes. Paket dari Marrakesh jauh lebih murah daripada dari kota Fes.
Rata2 harganya; 3 days 2 nights from Marrakesh 70eur (desert Merzouga) atau  2 days 1 night from Marrakesh 40 eur (desert Zagora).

Dan paket saya sendiri; 150 eur untuk 2 days 1 night from Fes to Merzouga to Marrakesh.
Mahal kan, tapi dengan alasan efisiensi waktu kami putuskan ambil paket 2 hr 1 mlm dr Fes dan berakhir di Marrakesh biar ga perlu bolak balik. Jadi buat yang mau ke Maroko dan ikutan trip Sahara jauh lebih baik ambil tur dari Marrakesh saja, dan ambillah yang 3 hari 2 malam karena konon kabarnya Merzouga itu jauuuuuuh lebih indah dari Zagora.

Pagi-pagi jam 07.30 kami dijemput sopir travel. Karena ga sempet sarapan, kami dibekali roti dan yogurt sama babang penginepan. Untungnya subuh2 sempet nanak nasi, jadilah kami makan bekal nasi sama sambel terasi di dalam mobil (semoga bule yang satu mobil dengan kami ga kebauan terasi wkwkwk).

Jarak dari kota Fes ke Rissani (kota terakhir sebelum masuk Merzouga) mungkin sekitar 500 kilometer. Ditempuh sekitar 8 jam perjalanan. Jauh yaa… Untungnya pemandangan sepanjang jalan bagus sekali. Saya jadi menyesal minum antimo padahal pemandangan diluar sayang dilewatkan.

Saya ga menyangka Maroko punya kontur yang unik. Selain gurun, ternyata di Maroko ada salju juga. Sepanjang jalan kami melewati hamparan padang rumput dengan backgound gunung yang masih diselimuti salju cukup tebal, dan juga lembah2 batu yang menakjubkan. Saya kagum dengan infrastuktur disana, jalanan yang kami lewati sepanjang perjalanan sangat muluuuus meskipun harus menembus gunung2 batu berliku.

Sekitar pukul 17.00 kami tiba di kota Rissani. Sesaat sebelum memasuki kota ini, sudah tercium sekali aroma2 gurun pasir. Kebetulan saat itu cuaca sedang berangin mengarah badai pasir, jadi kota Rissani gelap tertutup pasir. Saya sempat heran bagaimana penduduk bisa hidup di sini, dengan suasana kota yang penuh debu dan pasir.

Sesaat kemudian mobil jeep menjemput kami, membawa kami menuju hotel di tepian gurun di Merzouga. Lagi lagi saya heran sama sopirnya, bagaimana bisa sopir hafal letak hotel sedangkan jalur menuju area hotel bukan jalanan ber aspal melainkan seperti padang2 luas khas daerah afrika yang sepanjang mata memandang hanya hamparan tanah. Tanpa GPS dan tanpa kompas eeh nyampe juga di hotel. Tepuk tangan untuk pak sopir

Dari hotel inilah sudah disiapkan unta-unta untuk membawa kita menuju tengah gurun. Ditengah badai kecil, beberapa unta beriringan membawa kami menuju camp di Erg Chebby atau gurun Sahara. Pasir-pasir yang berterbangan cukup mengganggu perjalanan karena bikin mata kelilipan. Badan rasanya seperti risoles yang abis digulung2 ke dalam tepung panir, berlumuran pasir sepanjang badan. Bahkan muka saya kalau disentuh kaya lagi pake scrub. Banyak butiran-butiran pasinya.

Setelah kurang lebih sejam perjalanan di atas unta, tibalah kami di gurun Sahara. Rasanya seolah ga percaya saya bisa berada di tengah gurun yang sangat terkenal itu. SAHARA, dimana selama ini saya hanya mendengar namanya melalui pelajaran sekolah dan cerita-cerita orang.

Saya sangat menikmati suasana malam di tengah gurun.Malam itu kami disuguhi makan malam dengan menu teh mint maroko, bubur entah apa namanya dan chicken tangine. Jujur saya tidak suka tehnya. Baunya bkin saya pusing. Bukan bau mint yang selama ini saya kenal. Lebih mirip bau lalapan khas Sunda. Kalau tak salah namanya daun pokpohan.

Buburnya pun cuma saya icip seujung lidah. Lagi-lagi karena tidak suka aroma dan rasanya. Chicken Tangine adalah satu-satunyanya makanan yang bisa saya nikmati dengan lahap hap.
Tangine adalah makanan khas Maroko yang dimasak dengan alat masak bernama Tangine yang sekaligus sebagai tempat penyajian. Tagine terbuat dari tanah liat, atau bahan keramik berat yang berbentuk gerabah.

Setelah makan kami disuguhi hiburan musik ditengah api unggun. Beberapa orang suku berber dengan pakaian tradisional mereka, bermain alat musik dan bernyanyi mengelilingi api unggun. Gemerlap bintang-bintang di lagit sungguh menambah kehangatan dan keindahan malam kami di gurun Sahara.Melewati malam di tengah gurun tersebut menjadi pengalaman yang sangat mengesankan.Untuk urusan ke balakang, camp kami pun sudah dilengkapi dengan toilet duduk. Hanya saja airnya harus kita ambil sendiri di sumur dan masih menggunakan system timba manual.

Paginya kami sudah harus bersiap kembali ke Hotel sebelum matahari terbit Ternyata pemandangan gurun di waktu pagi jauuh lebih cantik dibandingkan sore hari pas kami berangkat. Mungkin karena sore badai pasir jadi pemandangan sedikit terganggu.

Ditengah perjalanan kami berhenti untuk menaiki bukit dan melihat matahari terbit.
MasyaAllah tak henti-hentinya saya berucap kagum atas apa yang saya liat saat itu. Hanya sebuah gundukan dan hamparan pasir tapi indahnya sungguh luar biasa. Benar-benar Maha Besar Allah yang telah menciptakan tempat seindah ini.

Sepanjang perjalanan meskipun dengan posisi cukup rempong di atas unta, kami semua anggota grup tak henti-hentinya mendokumentasikan pemandangan yang spektakuler ini. Setibanya di hotel, kami pun membersihkan diri. Kami dijemput mobil yang membawa kami ke kota Marrakesh, kota terakhir pada kunjungan ke Maroko kali ini.

Perjalanan dari Merzouga ke Marrakesh ditempuh sekitar 10 jam melewati pegunungan high Atlas. Jalur ditempuh cukup berliku sampai-sampai saya mabok dan muntah-muntah selama 90 kilometer terakhir sebelum sampai Marrakesh. Sebenarnya jika mengambil paket tur 3 hari 2 malam, kita akan diajak singgah ke tempat2 indah sepanjang perjalanan Merzouga-Marrakesh seperti Ait ben Haddou yaitu sebuah perkampungan kuno suku asli Maroko, dll.

Perjalanan gurun Sahara merupakan pengalaman paling berkesan saya selama di Maroko dan mungkin juga menjadi salah satu perjalanan yang paling berkesan selama trip-trip saya selama ini. Sahara ternyata jauuh lebih indah dari apa yang saya banyangkan selama ini. Sahara membuat saya jatuh cinta dengan Maroko.

 

 

Comments
Loading...