Membingkai Isu Perempuan dalam Media Massa

0 21

INIBORNEO, Pontianak – Maraknya isu – isu terkait perempuan membuat himpunan Jurnalis Perempuan Khatulistiwa (JPK) merasa perlu mengangkat berita tentang masalah pada perempuan, terutama kasus kekerasan pada perempuan. Pada Jum’at (14/02) hadir beberapa aktivis perempuan dan jurnalis  dalam kegiatan workshop dengan tema “Perempuan Dan Peran Media”. Hadir sebagai pembiacara CEO HI Pontianak Leo Prima dan ketua JPK Aseanty Widaningsih Pahlevi. CEO HI Pontianak, Leo Prima, mengatakan perspektif media terkait isu-isu perempuan  cenderung mengedepankan tentang kekerasan serta sering terjadi kesenjangan.

“Fungsi media massa adalah untuk memberikan informasi kepada masyarakat, namun perempuan cenderung masih digunakan sebagai objek dalam media,” kata Leo, yang juga merupakan dosen Ilmu Komunikasi Universitas Tanjungpura, dalam kegiatan Workshop Perempuan dan Peran Media, di Sekretariat Jurnalis Perempuan Khatulistiwa (JPK) Pontianak.

Menurutnya, paradigma media masih menganggap isu terkait laki-laki masih penting. Padahal kaum perempuan justru lebih banyak isu yang bisa diangkat. “Sebanyak 60 persen pengguna media sosial adalah perempuan. Mereka mengakses sosmed secara implusif maupun kompulsif,” ujar Leo.

Ketua JPK Pontianak, Aseanty Widaningsih Pahlevi, mengatakan perempuan masih dianggap makhluk yang lemah, tidak mandiri, emosi yang meledak, pemarah, rambut harus panjang, bibir merah, dianggap sebagai pengasuh dan orang yang membesarkan anak, selalu diidentifikasi pada ranah rumah tangga. “Pada posisi yang berbeda, hierarki gender menempatkan laki-laki sebagai gender perkasa, selalu menang, bertanggung jawab. Kontruksi gender dalam konteks patriarki membuat perempuan sulit untuk mengubah “takdirnya”,”katanya.

Stereotip yang melekat pada perempuan dan hierarki gender akhirnya menimbulkan persoalan baru yang terjadi pada masyarakat, sehingga melestarikan kekerasan dan diskriminasi terhadap perempuan dan industri media.

“Isu perempuan sudah menjadi isu global, bagaimana seharusnya hal ini mendapat perhatian penting, tugas jurnalis adalah harus bisa mengemas isu ini menjadi isu populer,” katanya Levi, sapaan akrabnya.

Ketua Panitia Workshop Perempuan dan Peran Media, Wati Susilawati, menjelaskan saat ini isu perempuan sangat penting, “Kita ingin membangun sinergitas dengan para aktivis dan media, agar dapat memberikan peran strategis dalam memberikan perubahan kepada masyarakat tentang perempuan,” ujarnya saat usai kegiatan workshop.

Ia sangat mengharapkan, media memiliki kekuatan untuk melanggengkan beragam pandangan dan berupaya mendorong media agar menjadi lebih berkualitas dan sensitif gender, terutama perempuan.

Dikatakannya, saat ini media masih mengutamakan pemberitaan sensasional, maka dengan adanya workshop ini media dianggap menjadi alat yang efektif untuk menyuarakan persoalan gender dan perlindungan perempuan.

Salah satu peserta workshop, Poltak S. Nainggolan, reporter Radio Volare, menambahkan, cara berpikir kaum perempuan berbeda dengan laki-laki, perempuan juga diharuskan untuk mandiri, cerdas dan mampu mengalokasikan keuangan rumah tangga dengan baik. “Perempuan juga harus mengerti dalam mengelola finansial keluarga, karena bukan hanya keharusan seorang laki-laki, perempuan juga memiliki kedudukan yang sama,” ujar Poltak yang membawa program acara keuangan dan finansial di Radio Volare.

Ia masih sangat menyayangkan, isu-isu tentang keuangan belum menjadi topik yang menarik bagi perempuan, padahal katanya, perempuan cenderung dijadikan budak dalam dalam budaya kosmetik, yang mengharuskan mengalokasikan dana setiap bulan. “Padahal kosmetik yang dibeli  tidak perlu-perlu  amat, tapi pada akhirnya perempuan seolah-olah telah diperbudak oleh media, terutama iklan,” pungkasnya.

Comments
Loading...