Melihat Ritual Buka Mata Naga di Kelenteng Tua Kota Tertoleransi

0 36

INIBORNEO, Singkawang – Kamis (23/1/2020) sore kemarin, warga warga yang memadati kelenteng tua atau Vihara Tri Dharma Bumi Raya Singkawang di Kota Singkawang, Kalimantan Barat.

Sementara, dari arah kejauhan terdengar lantunan azan salat ashar. Azan itu terdengar dari Masjid Raya Singkawang yang jaraknya sekitar 200 meter dari kelenteng tua tersebut.

Kala itu, tak ada aktivitas yang berarti di kelenteng tua tersebut. Warga hanya bersiap menyaksikan ritual sambil menunggu azan selesai. Ketika tak ada lagi suara yang terdengar dari masjid berwarna hijau putih ini, ritual pun dimulai.

Ya, nama ritualnya adalah Ritual Buka Mata Naga. Bukan naga sesungguhnya, tapi ini hanya sekedar replika. Ritual ini dipimpin oleh seorang suhu yang sebelumnya melakukan sembahyang kepada dewa di dalam kelenteng tua tersebut.

Kemudian, satu per satu naga tersebut secara maju ke depan Vihara Tri Dharma Bumi Raya untuk dilakukan ritual buka mata. Sang suhu yang memimpin ritual ini menyalakan dupa serta memercikkan air yang telah dibacakan mantra.

Selain itu bagian ekor dan kepala naga dilukis dengan kuas dan tinta bersama rapalan mantra. Sang suhu kemudian membuka mata replika naga yang sebelumnya ditutup menggunakan kain merah. Setelah terbuka, replika naga ini sudah boleh atraksi atau pawai mengelilingi kota.

Ritual Buka Mata Naga ini biasanya dilaksanakan setiap tanggal 13 bulan pertama Imlek. Atau hari ke-13 setelah perayaan Imlek. Namun, kali ini berbeda.

Pada intinya, ritual Buka Mata Naga ini untuk mengawali dimulainya pertualangan para naga untuk berkeliling kota dalam rangka memeriahkan pelaksanaan Imlek 2571 dan Festival Capgome 2020.

Masyarakat Tionghoa mempercayai replika naga ini dapat memberikan berkah dan menghindari malapetaka. Kemudian supaya selalu dilimpahkan berupa kesehatan dan keamanan bagi masyarakat.

Koordinator lapangan yang membawa naga untuk ritual buka mata naga, Lie Cin Cung menjelaskan, pelaksanaan ritual ini untuk mengisi roh Dewa Naga ke dalam replika naga yang akan dimainkan oleh para pemain nantinya.

Nantinya, sambung Lie, jika ritual ini terlaksana, maka replika naga ini akan hidup dan bisa dimainkan dengan semangat semangat. Menurut Lie, ritual ini merupakan tradisi dalam perayaan Imlek dan Capgome.

“Setelah buka mata naga, diharapkan naga yang berkeliling kota dapat mengusir roh-roh jahat dan menolak bala. Sehingga kami masyarakat senantiasa dalam keadaan aman, nyaman dan tentram,” harapnya.

Para prosesi ritual buka mata kali ini, hanya ada tiga replika naga yang dilibatkan. Panjang naga ini sekitar 30 meter. Nantinya, replika naga ini juga akan mengikuti rangkaian perlombaan dalam Festival Capgome 2020.

Nantinya juga akan dilakukan ritual serupa pada hari Capgome, yakni hari ke-15 Imlek. Setelah melakukan serangkaian kegiatan ini, tepat pada hari Capgome nanti, roh naga akan dihantarkan ke langit atau khayangan dengan cara membakar replika naga.

Tjhai Leonardi, Ketua Harian Panitia Perayaan Imlek 2571 dan Festival Capgome 2020 menambahkan, ritual buka mata digelar dengan tujuan agar naga-naga yang nantinya akan beratraksi di Kota Singkawang, telah dimasuki roh Dewa Naga dari khayangan. Sehingga, replika naga ini diharapkan memiliki jiwa selayaknya Dewa Naga.

“Menurut tradisi kami masyarakat Tionghoa, kalau naga dihidupkan itu dengan cara membuka mata. Istilahnya kita isi dengan roh Dewa Naga, supaya kita bisa memainkan atraksi naga,” ujarnya.

Ratusan warga dari semua kalangan masih setia menyaksikan secara langsung ritual Buka Mata Naga ini. Mereka rela berdesakan di bawah terik matahari untuk melihat replika naga yang menjalani ritual. Usai melakukan ritual ini, replika naga akan diarak atau pawai keliling Kota Singkawang.

Momen ritual ini disaksikan langsung Wali Kota Singkawang Tjhai Chui Mie, Wakil Wali Kota Singkawang Irwan serta Forkopimda Kota Singkawang. “Prosesi ritual Buka Mata Naga ini menandakan bahwa naga yang sudah mengikuti prosesi ini sudah bisa melakukan atraksi sampai 15 hari mendatang,” ujar Tjhai Chui Mie.

Ia juga mengajak masyarakat menjadi tuan rumah yang baik serta tetap menjaga dan mempertahankan predikat Singkawang sebagai Kota Tertoleransi. “Mari jaga keramahan, jaga keamaman, jaga kebersihan lingkungan, menghias rumah masing-masing bagi merayakan Imlek,” imbaunya.

Tahun ini, perayaan Imlek 2571 dan Capgome 2020 bertemakan “Budaya Menyatukan Bangsa”. Sesuai tema, Thjai Chui Mie berharap semua elemen masyarakat bisa berpartisipasi aktif mendukung dan mensukseskan acara tahunan ini.

“Sudah menjadi tanggung jawab kita bersama-sama menjaga nama baik Kota Singkawang. Mari buat kesan yang baik menarik, sehingga tamu yang datang, orang yang menyaksikan kota kita, mau kembali lagi ke Singkawang. Semoga semua kegiatan berjalan dengan lancar senantiasa di bawah lindungan Tuhan Yang Maha Esa,” ucapnya.

Comments
Loading...