Mantan Bupati Sambas Terkena OTT? Ini Faktanya

0 95

INIBORNEO, Pontianak – Beberapa hari yang lalu publik sempat dihebohkan dengan beredarnya sebuah video Operasi Tangkap Tangan (OTT) terhadap kasus penyuapan di sebuah rumah makan. Pada video itu memperlihatkan petugas berpakaian bebas menggeledah tas seorang perempuan.

“Buka, tolong dibuka. Bawa. Tolong kooperatif dari pada merugikan bapak ibu sendiri. Pak Kades juga ikut. Semua ikut. Handphone ambil. Borgol borgol,” begitu isi percakapan dalam video yang berdurasi 3 menit 7 detik tersebut pasca penggeledahan tas.

Dalam tas itu, ditemukan amplop yang berisi uang puluhan juta. Setelah adanya barang bukti yang diduga terkait kasus penyuapan, perempuan berjilbab tersebut digiring ke mobil petugas. Turut serta beberapa lelaki yang duduk satu meja, diangkut petugas.

Diduga perempuan yang tasnya terdapat barang bukti ini adalah Juliarti Djuhardi Alwi, mantan Bupati Sambas periode 2011 hingga 2016. Sontak, informasi ini menghebohkan warga Kalimantan Barat. Terutama warga Sambas.

Video ini beredar dengan cepat di WAG (WhatsApp Group) hampir disemua kalangan sejak Selasa (17/12/2019) pagi. Termasuk grup wartawan. Narasi yang disebarkan menyertai video tersebut, sebagai berikut: “Mantan Bupati Sambas Ibu Juliarty Kena OTT”

Setelah dilakukan penelusuran oleh anggota Tim Hoax Crisis Centre (HCC) Kalbar, faktanya video yang beredar ini bukan OTT terhadap Juliarti Djuhardi Alwi mantan Bupati Sambas.

“Jelas itu bukan mantan Bupati Sambas, Juliarti. Karena, dari video yang beredar ini kita bisa melihat sendiri itu bukan terjadi wilayah Kalimantan Barat. Mudah sekali, bisa dengar dari dialek dalam video itu, serta melihat visual yang terekam. Seperti plat kendaraan misalnya,” jelas Reinardo Sinaga, Ketua Umum HCC Kalbar dalam keterangan resminya, Selasa (17/12/2019).

Hasil penelusuran lainnya yang menguatkan OTT itu bukan di Kalbar adalah, setelah ditemukan video yang sama di platform youtube. Kanal Rafflesia Arnoldi Bengkulu yang menunggah video itu pada 30 Juli 2019.  Video berjudul “Detik-detik penangkapan (OTT) Oknum LSM yang diduga melakukan pemerasan terhadap Kepala Desa” dan video itu sudah ditonton sebanyak 1.800 kali.

Dalam unggahannya, kanal ini menuliskan deskripsi: “Detik-detik penangkapan (OTT) Oknum LSM yang diduga melakukan pemerasan terhadap Kepala Desa di Rumah Makan Setia Utama Pasar Kepahiang, Selasa (30/7/2019). Jaksa berhasil mengamankan barang bukti uang tunai sebanyak Rp30 juta.”

Dengan demikian, kata pria yang akrab disapa Edo ini, konten yang disebarkan adalah disinformasi kategori false context. “Kesimpulannya, si penyebar video disertai narasi berusaha membangun premis bahwa mantan Bupati Sambas terjaring OTT dengan tujuan tertentu,” tegasnya.

Maka dari itu, Edo berharap, masyarakat dapat bijak dalam menggunakan media sosial dan internet. “Di era media digital saat ini, mari kita cerdas sebagai pengguna internet, saring sebelum sharing dan jangan kalah otak dengan jempol,” imbau pria yang aktif di Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) ini.

Tak hanya ini, Juliarti pun sudah memberikan bantahannya melalui rekaman video yang diterima Tim HCC Kalbar. “Saya Juliarti. Saya ingin mengklarifikasi video yang beredar, yang seakan-akan mengatasnamakan saya melakukan hal-hal seperti yang diungkap dalam video itu. Saya ingin menjelaskan, bahwa Alhamdulillah, saya masih dalam lindungan Allah SWT. Apa yang ada di video itu tidaklah benar. Kalau kita screenshot dengan baik, sangat beda wajah dalam video dengan wajah saya. Kacamatanya beda, pipi saya tembem,” tegasnya.

Ia mengaku terharu dengan video yang beredar ini justru mendapat banyak perhatian dari keluarga dan kerabat. “Saya tegaskan, video yang beredar bukanlah saya. Insya Allah, kita selalu mendoakan satu sama lain. Dan, kita semua mendapatkan lindungan dari Allah SWT. Yuk kita saling mendoakan dan berfikir positif, bersama-sama memajukan Kabupaten Sambas menjadi lebih baik,” pungkasnya. (*)

Comments
Loading...