LONG GAME

0 111
INIBORNEO.COM, URS Business Notes – Dari sekian pembicara internasional, saya cocok dengan Simon Sinek. Banyak konsep manajemennya yang berkesesuaian dengan hati saya secara personal. Pas. Fit. Cocok. Gak tau kenapa.
Beliau adalah pakar organisasi. Konsentrasi bahasannya ada pada organisasi. Maka saya sarankan kawan-kawan juga belajar pada beliau.
Sulitnya ya kontennya bahasa Inggris. Di ranah UMKM sangat sedikit yang bisa akses bahasa Inggris, adapun yang bisa bahasa Inggris biasanya profesional. Yang bekerja pada bos seperti Anda. He he he.
Udah gak papa kalo gak bisa bahasa Inggris, yang penting ada yang nerjemahin. Aman.
Pagi ini saya menonton ulang tayangan tentang Metrics Meassurement. Jadi Om Sinek sedang membahas bahayanya seorang pemimpin jika salah melakukan basis penilaian pada tim.
Kebanyakan kita menetapkan GOAL sebagai satu-satu nya ukuran. Pokoknya harus tercapai sekian M. Titik.
Ya gak ada salahnya, namun bahayanya, ketika tim bekerja sampai akrobat untuk mencapai sebuah goal tersebut, kita hanya melihat hasilnya, oh iya naik, melesat, capai target, tapi kita sulit menilai apakah hal itu bisa sustain atau tidak.
Maka ada penilaian pada hal lain, yaitu proses. Inilah yang akan kita bahas kali ini.
Goal di setiap tim pada titik 10M di tahun 2019.
Tim A mencapai dengan histori :
– 2 M di Januari
– 100 juta di Feb
– 50 juta di Maret – April
– 1 M di Mei – Juni
– 200 juta di Juli – Agustus
– 100 juta di Sept
– 500 juta di Okt
– 200 juta di Nov
– 5,8 M di Des
Total : 10 M
Sedangkan tim B tidak mencapai target, historinya :
– 100 jt di Jan
– 200 jt di Feb
– 300 jt di Mar
– 400 jt di Apr
– 500 jt di Mei
– 600 jt di Jun
– 700 jt di Jul
– 800 jt di Agustus
– 900 jt di Sept
– 1 M di Okt
– 1.1 M di Nov
– 1.2 M di Des
Total nya : 6,2 M
Secara kasat mata pasti kita akan pro pada tim A, karena apapun latarnya, tim A berhasil mencapai target penjualan. Dan tim B tidak mencapai.
Anehnya, dalam pandangan seorang ahli manajemen seperti Om Sinek, tim B lebih menjanjikan ketimbang tim A.
Karena tim A menunjukkan ketidak stabilan di sepanjang tahun. Pertanyaannya, apakah performa tim A bisa dipertahankan di tahun-tahun berikutnya.
Sementara tim B nampak sudah menemukan MOMENTUM untuk terus bertumbuh 100 poin per bulan. Bertambah incremental disetiap bulannya. Konsisten.
Om Sinek lalu menjelaskan hal yang kita tidak lihat :
Apa jadinya jika tim A ternyata melakukan reshuffle tim secara sporadis sepanjang tahun, bukankah itu merusak organisasi. Hanya gara-gara ingin mencapai target.
Apa jadinya jika tim A ternyata melakukan boosting sintetik sporadis pada iklan dan langkah sintetik lainnya? Bagaimana jika daya dorong dari perusahaan tidak dilakukan, apakah produk tetap berjalan?
Apa jadinya jika tim A menghalalkan segala cara agar mendapatkan sales melonjak di bulan Desember? Bukankah itu berbahaya untuk kontinuitas di tahun berikutnya?
Sustain, terus menerus, itulah yang berulang-ulang diajarkan oleh Om Sinek. Bahwa bisnis yang kuat adalah yang memiliki nafas panjang, berjalan organik, karena memang pasar membutuhkannya.
Tidak harus selalu mendapatkan push penjualan untuk bergerak di pasar.
Apa yang diajarkan ini juga sejalan dengan budaya pondok di Munzalan. Tempat saya belajar ke Kiyai Luqman.
Target raihan ziswaf tetap ada. Rencana pengembangan lahan wakaf gak usah ditanya, berpuluh puluh hektar.
Namun di sesi briefing pagi dengan para santri, kiyai Luqman menyampaikan :
“Saya gak lihat hasil. Pimpinan disini gak lihat hasil. Yang kami lihat adalah kesiapan teman-teman untuk berproses, menetes, sabar,”
“Halaqah subuh pagi datang, ngaji 1 juz sehari, jangan bermaksiat, para santri pemegang amanah (SPA), lakukan disiplin prosedur pondok”.
Jadi pondok berfokus pada check list prosesnya, bukan hanya melihat hasil ujungnya.
Dunia materialisme hari ini mendorong kita untuk hanya berfokus pada hasil… hasil… dan hasil…
Kita tutup mata gimana caranya. Mau over promise kek, mau bual-bual kek, mau nanti market habis beli kecewa kek, mboh lah yang penting uang masuk.
Akhirnya bisnis hanya dibangun dari produk satu ke produk lainnya. Apakah salah? Ya gak juga kalo memang itu cara main? Tapi apakah kita berniat begitu?
Semua dikembalikan kepada masing-masing.
Tulisan saya kali ini targetnya sederhana,
Selama bisnis kawan-kawan menunjukkan momentum naik, ya sabar aja, proses hariannya tetap dilakukan. Sabar-sabar. InsyaAllah akan tercapai juga nanti ujungnya.
Hari ini.. Sabar berproses itu yang mahal. (r-papiadjie)
Comments
Loading...