Film Kisah Dua Sahabat Difabel Ditayangkan di TMW 2019

0 76

INIBORNEO, Jakarta – Tempo Media Week atau TMW 2019 akan memutar film dokumenter tentang kehidupan dua perempuan tunanetra yang bersahabat sejak kecil. Kedua sahabat ini punya latar belakang lingkungan yang berbeda, namun saling menguatkan.

Dua karakter, Dhea dan Salsa, merupakan karakter yang berbeda. Dhea tinggal di negara maju dengan aksesibilitas bagi difabel yang sudah mumpuni. Sementara Salsa masih harus berjibaku dengan keterbatasan fasilitas dan dukungan dari lingkungan sekitar.

Dhea, dengan segala aksesnya belajar hidup mandiri. Ia belajar menyetir, memasak, bermain flying fox dan kegiatan lainnya. “Aku tadi belajar menyetir dengan temanku,” ujar Dea saat menelepon Salsa.

Dia bersama teman-temannya berangkat naik kereta listrik dengan mudah. Aksesibilitas dan pendidikan yang diperoleh sangat membantu Dhea terjun ke masyarakat. Ketakutan akan hidup dalam gelap terpecahkan.

Sementara Salsa berupaya menjemput masa depannya melalui sekolah inklusi. Di sekolah, tak semua teman menerima keadaannya. Terlebih karena sekolahnya jauh, Salsa terpaksa tinggal di asrama dengan fasilitas alakadarnya.

Salsa tetap berupaya mandiri. Dia berproses dengan sendirinya. Tanpa pembimbing apalagi pelatih profesional. Untuk mobilitas, Salsa mengandalkan layanan ojek online dengan bantuan ponsel yang telah dipasangi aplikasi pembaca layar.

Kehidupan kedua sahabat ini didokumentasikan oleh Ucu Agustin dan difilmkan dalam judul How Far I’ll Go atau Sejauh Kumelangkah. Film berdurasi 35 menit itu menyajikan kehidupan dua sahabat yang berbeda kesempatan.

Film How Far I’ll Go masuk nominasi dalam Festival Film Indonesia (FFI) 2019 untuk kategori Film Dokumenter. Film Sejauh Kumelangkah sempat diputar di Jogja Netpac Festival ke-14 di Yogyakarta dan di Galeri Indonesia Kaya pada 2 Desember lalu.

Hari ini, film How Far I’ll Go bakal ditayangkan di Tempo Media Week pada pukul 13.00 di Gedung Perpustakaan Nasional, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta. Melalui film ini, Ucu Agustin berharap para penonton mengetahui bagaimana kelompok disabilitas menyongsong hidup mereka. Penonton bisa melihat bagaimana seharusnya infrastruktur dan kebijakan seharusnya mendukung difabel. “Film ini bukan bermaksud untuk membandingkan. Idenya adalah bagaimana mereka meraih masa depan,” ujar Ucu Agustin.

Comments
Loading...