Beruang Bertangan Satu Kembali ke Alam Liar

0 140

INIBORNEO, Ketapang – Status konservasi beruang di IUCN adalah vulnerable atau terancam. Meskipun beruang madu dilindungi oleh undang – undang di Indonesia sejak tahun 1973 dan bahkan diperkuat dengan PP no 8 tahun 1999 tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar, beruang madu saat ini terancam oleh perusakan habitat, kebakaran hutan, serta perburuan untuk peliharaan atau untuk diambil bagian tubuhnya.

Kepala BKSDA Kalbar, Sadtata Noor Adirahmanta mengatakan sudah saatnya manusia harus berubah dan sadar bahwa mereka sedang membunuh dirinya pelan – pelan. “Semua bencana alam, konflik satwa dan lain lain hanyalah pesan. Pesan yang disampaikan oleh alam bahwa kehidupan sedang bermasalah dan tidak baik – baik saja. Perusakan habitat satwa, yakni hutan, pada akhirnya akan menyengsarakan manusia juga. Ingatlah bahwa konflik – konflik satwa dan manusia hanyalah pesan bahwa kita bersama sama sedang menuju pada kepunahan.” tuturnya.

Nanjung adalah salah satu satwa liar yang tidak pernah menyangka akan kehilangan habitatnya dan bahkan dia juga harus kehilangan sebelah lengannya. Semuanya berawal ketika seorang warga desa Sungai Nanjung, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Ketapang, sengaja memasang tali jerat untuk menangkap beruang yang memasuki kebun miliknya. Pemasang jerat mengaku memasang jerat karena ada beberapa beruang yang sering memasuki kebunnya dan memakan madu yang ada di pondoknya. Jerat yang dipakai adalah tali nilon sepanjang 2,5 meter yang dipasang di belakang pondoknya. Jerat ini dipasang pada sore hari dan keesokan paginya, Rabu, 20 November 2019 seekor beruang tampak terkena jerat.

Warga yang mengetahui adanya jerat ini kemudian melaporkan beruang ini kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Ketapang. Menindaklanjuti laporan ini, tim Wildlife Rescue Unit BKSDA Kalbar SKW I Ketapang bersama tim IAR Indonesia meluncur kelokasi.

Ketika tim datang, beruang jantan yang kemudian diberi nama Nanjung ini tampak stress dan agresif, dengan putus asa berusaha menarik dirinya lepas jadi jerat. Usaha yang terlihat sia-sia karena makin keras beruang menarik tangannya, makin erat pula jerat itu mengikat tangannya.

Tim memutuskan menggunakan sumpit untuk membius beruang berbobot 40 kg ini. Setelah berhasil dibius, tim memotong jerat yang sudah menyiksanya sehari semalam dan dokter hewan IAR Indonesia membersihkan luka – lukanya.

Ketika itu, Nanjung dibawa kepusat rehabilitasi IAR Indonesia yang mempunya ifasilitas perawatan satwa untuk menjalani perawatan dan pemeriksaan lebih lanjut. Empat hari setelah berada di kandang karantina IAR Indonesia, tim medis menemukan pembengkakan pada tangan kanan Nanjung yang terkena Jerat.

Hari berikutnya, kondisi Nanjung memburuk, tulang jari tangannya mencuat karena lapisan kulit dan daging yang membungkusnya sudah rusak dan sebagian membusuk. Setelah melalui pemeriksaan lebih jauh dengan mengunakan sinar X dan melakukan diskusi yang melibatkan BKSDA Kalbar, tim medis memutuskan untuk mengamputasi tangan orang utan ini pada tanggal 25 November 2019. Amputasi dilakukan sebatas lengan untuk mencegah infeksi dan pembusukan menyebar lebih jauh.

Hasil pemeriksaan ulang pada tanggal 1 Desember menunjukan lukanya sudah pulih dan saat ini Nanjung sudah siap dikembalikan kehabitatnya. Setelah menjalani perawatan selama lebih dari 1 bulan, akhirnya Nanjung bisa pulang ke habitat aslinya. BKSDA Kalimantan Barat bersama IAR Indonesia bekerjasama dengan PT. Hutan Ketapang Industri (HKI) melepaskan Nanjung keKawasan Hutan milik PT. HKI di Kendawangan, Ketapang, Kalimantan Barat.

Direktur IAR Indonesia, Karmele L Sanchez mengatakan meskipun kehilangan lengannya,  beruang ini akan mampu bertahan hidup di alam. “Kami yakin beruang ini akan mampu bertahan hidup karena kemampuan adaptasinya yang tinggi. Selain itu kecerdasan yang dimiliki beruang ini akan menambah kesempatannya untuk bertahan hidup di alam,” ujarnya.

“Masalah sebenarnya tidak akan selesai dengan melepaskan Nanjung ke habitat yang lebih aman. Kasus beruang terkena jerat di kebun warga hanyalah gejala, dan besar kemungkinan kasus seperti ini akan terulang lagi. Penyakit sebenarnya adalah rendahnya tingkat pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan satwa liar dilindungi serta konversi dan alih fungsi hutan menjadi kebun dan pemukiman. Hutan yang kian menyempit menjadikan ruang gerak beruang ini makin terhimpit. Tidak ada pilihan lain baginya untuk bertahan hidup selain mencari makan di rumah warga,” pungkasnya. (*)

Comments
Loading...