Desa Ini Canangkan ‘Zero Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak’

0 5

INIBORNEO, Pontianak – Desa Parit Baru, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat mendeklarasikan sebagai desa ‘zero kekerasan terhadap perempuan dan anak. Upaya ini merupakan bagian dari kampanye 16 hari anti-kekerasan terhadap perempuan.

“Kita pencanangan ini merupakan pijakan awal, dan diikuti oleh desa-desa lainnya di Kalimantan Barat,” tukas Reny Hidjazie, direktur Pusat Pengembangan Sumberdaya Wanita Borneo, 1 Desember 2019. Lembaga ini mendampingi Desa Parit Baru sebagai bagian dari program bergerak dari desa. JASS, FAMM ( forum aktivis perempuan muda) Indonesia, SPBK ( serikat perempuan basis khatulistiwa), JPK dan PPSW Borneo.

Masalah yang melatarbelakangi pencanangan desa zero kekerasan terhadap perempuan dan anak adalah maraknya perkawinan anak di desa-desa. Modus operandinya, identitas anak disembunyikan atau dipalsukan agar dapat melangsungkan pernikahan, atau tidak mencatatkan perkawinannya secara resmi.

Selain itu, pekerja anak untuk sektor perkebunan, pertambangan, atau jermal di laut menjadi masalah lainnya. Kejahatan seksual juga menjadi ancaman di desa-desa, lantaran kurang informasi untuk mendapatkan keadilan dan budaya yang menyalahkan korban kekerasan seksual, sehingga korban menjadi trauma berkali-kali.

Senada, Bupati Kubu Raya, Muda Mahendrawan  menegeskan tidak akan berkompromi akan tindakan kekerasan yang melibatkan perempuan dan anak. “Kita harus bergerak, dan jangan tanggung-tanggung, kita besarkan kegiatan ini agar bisa menjadi isu nasional dan itu dimulai disini, di desa Kubu Raya,” paparnya.

Bicara kekerasan perempuan harus dilakukan menyeluruh, serentak.  Jika tidak dilakukan masif, maka akan sulit. “Desember ini kita turun ke jalan, getarkan semua untuk menyadarkan secara kolektif. Kita akan kepung dengan isu ni, jangan hanya parsial. Dinas tidak akan mampu maka perlu berbagai pihak untuk memaksimalkan isu ini.

Kita kembalikan posisi warga sebagai penyampai informasi terdepan, begitu pun jika menyangkut kekerasan perempuan dan anak. Dari desa kita bergerak, menuju nol kekerasan,” ujarnya penuh semangat yang diaminkan para peserta yang kebanyakan pegiat perempuan.

Ketua Jurnalis Perempuan Khatulistiwa, Aseanty Pahlevi, menekankan pentingnya gema lintas sektoral agar kampanye ini bisa jauh efektif hasilnya. “Jurnalis perempuan mendukung penuh karena kita adalah bagian penggerak perubahan untuk berani berkata stop kekerasan dan bentuk ancaman lainnya,” katanya. (*)

 

 

 

Comments
Loading...