Edukasi Fintech Ilegal, Kenali Ciri-cirinya!

0 6

INIBORNEO, Pontianak – Layanan Financial Technology (Fintech) Lending yang kian diminati oleh masyarakat karena mampu mencairkan dana dengan cepat, justru banyak yang bodong. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kalimantan Barat memberi edukasi kepada 30 jurnalis tentang fintech ilegal dalam Kegiatan Edukasi Wartawan, Rabu (27/11), yang diselenggarakan di Hotel Mercure, Pontianak.

Kepala OJK Kalbar, Moch Riezky F. yang membuka kegiatan mengatakan bahwa literasi keuangan di Kalbar saat ini berada di angka 36%. “Melihat angka tersebut bisa dikatakan didefiniskan bahwa dari 10 orang, hanya 3-4 orang saja yang memiliki pengetahuan tentang keuangan,” tuturnya.

“Bisa jadi, lembaga Fintech ini memanfaatkan para nasabah untuk mengumpulkan uang mereka untuk mengambil keuntungan,” jelas Dinar Fida Sasmita, Kepala Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK yang juga hadir sebagai pemateri.

Demi meningkatkan perlindungan konsumen atau nasabah, OJK memberikan ciri-ciri fintech bodong, yang perlu diketahui, di antaranya:

1. Identitas Perusahaan Disamarkan

Pada umumnya perusahaan yang bergerak dibidang apapun akan terbuka perihal identitas perusahaan guna diketahui banyak orang, mulai dari alamat kantor, nomor telepon dan sebagainya.

2. Pencairan Dana Mudah

Perusahaan fintech P2P Lending ilegal memang selalu menjanjikan kemudahan dalam memberikan layanan pinjam meminjam kepada calon nasabahnya. Tujuannya tentu untuk menarik minat banyak nasabah. Misalnya saja pencairan dana yang diajukan bisa cair dengan sangat cepat, yaitu sekitar 15 menit hingga 30 menit setelah mengajukan aplikasi.

3. Jangan Memberikan Data Pribadi

Aplikasi fintech lending biasanya menyalin semua nomor hp yang ada di smartphone, mendapat akses ke foto dan files nasabah. Sehingga dijadikan alat untuk menekan nasabah yang kreditnya tidak lancar. “Pada Fintech legal, dilarang untuk menyalin data nasabah,” katanya.

4. Bunga Sangat Tinggi

Fintech illegal biasanya menerapkan bunga yang sangat tinggi mencapai 2% – 3% per harinya dan tidak adanya transparan dalam memberikan struktur perhitungan secara detil.

Perlu diketahui, total kerugian fintech nasional dari tahun 2008-2018 mencapai kurang lebih 88,8 triliun rupiah.

Comments
Loading...