Media Turut Dukung Budaya Patriarki

0 28

INIBORNEO, Pontianak – Patriarki merupakan sistem relasi sosial yang meletakkan ketokohan laki-laki dewasa sebagai sosok yang mendominasi semua aspek kehidupan masyarakat, terutama perempuan. 

Pemerhati isu gender, Julia, menggarisbawahi pentingnya memahami sistem patriarki yang menjadi salah satu akar masalah ketidaksetaraan gender dan maraknya tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak di Indonesia.

“Tidak jarang ditemukan gaya bahasa yang cenderung merendahkan perempuan di media,” kata Julia. Dia mencontohkan, ‘Paula Verhoeven Pasrah Dinikahi Baim Wong’ yang diunggah oleh Suara.com, pada Minggu, 24 Juni 2018. Contoh lain, ‘Bagaimana Karir Paula Verhoeven Setelah Dinikahi Baim Wong?’ yang terbit di Tabloid Bintang, pada Sabtu, 27 Oktober 2018.

Model gaya berbahasa tersebut membangun dan melanggengkan sosok perempuan yang lebih rendah posisi dan nilainya dibanding laki-laki. “Ini merupakan ciri khas pola pikir dalam sistem sosial patriarki,” katanya. Pola pikir patriarki meletakkan nilai perempuan yang lebih rendah daripada laki-laki, merupakan pemicu utama terjadinya berbagai bentuk kekerasan berbasis gender, khususnya terhadap perempuan.

Julia mengutip Iqraa Runi, di Jurnal Perempuan (2019), pada tahun 2019 Komnas Perempuan mencatat sebanyak 406.178 kasus kekerasan terhadap perempuan. Dalam catatan ini juga menyebutkan bahwa bentuk-bentuk kekerasan yang dialami adalah perkosaan dalam pernikahan (marital rape), incest, kekerasan dalam pacaran (KDP), cybercrime, dan kekerasan seksual pada perempuan disabilitas.

Sementara itu, jenis-jenis kekerasan seksual yang terjadi adalah pelecehan seksual, eksploitasi seksual, pemaksaan penggunaan kontrasepsi, pemaksaan melakukan aborsi, perkosaan, pemaksaan perkawinan, pemaksaan pelacuran, perbudakan seksual, penyiksaan seksual, termasuk yang terjadi diluar nalar kemanusiaan, seperti penelanjangan perempuan di bandara atas nama keamanan dan ancaman mengedarkan video porno (revenge porn).

Untuk menghilangkan pola pikir patriarki, lanjut Julia, jurnalis wajib mengetahui hal yang harus dilakukan dalam menulis berita dan menjadi media yang memiliki sensitivitas terhadap isu keadilan gender dan perempuan. Pertama, jurnalis harus memahami akar masalah ketidaksetaraan gender dan tindak kekerasan terhadap perempuan (dan anak) yang merupakan persoalan serius di Indonesia.

Kedua, jurnalis harus melakukan proses bongkar pikir (dekonstruksi) terhadap sistem relasi sosial masyarakat yang tidak adil gender, khususnya dalam masyarakat tempat jurnalis tinggal dan bertumbuh. Proses bongkar pikir ini bisa dilakukan melalui refleksi aktif terhadap sistem relasi sosial antara laki-laki dan perempuan yang terdapat di dalam masyarakat. “Yang ketiga, jurnalis memiliki pengetahuan tentang perspektif dan gaya bahasa penulisan yang sensitif dan setara gender,” pungkas Julia.(*)

 

Comments
Loading...