Yanieta Tekankan Jaga Kualitas Batik Kamboja

Pembentukan Kelompok Pengrajin Batik Kampung Kamboja

0 15

Warga Gang Kamboja Kelurahan Benua Melayu Laut Kecamatan Pontianak Selatan membentuk Kelompok Pengrajin Batik Kampung Kamboja. Kelompok pengrajin yang baru berjalan selama satu bulan lalu ini diresmikan oleh Ketua Dekranasda Kota Pontianak, Yanieta Arbiastuti Kamtono, Selasa (5/3).

Yanieta menyambut baik dan memberikan apresiasi kepada para pengrajin khususnya penggiat yang menginisiasi pembentukan kelompok pengrajin batik kamboja. Selaku pengurus Dekranasda, pihaknya siap membantu untuk memasarkan produk-produk dari Kelompok Pengrajin Batik Kampung Kamboja. “Kami dari Dekranasda Kota Pontianak siap menampung untuk memasarkan produk-produk yang pastinya harus berkualitas,” katanya.

Yanieta berharap, program-program Kelompok Pengrajin Batik Kampung Kamboja ini membawa angin segar untuk menciptakan pelaku ekonomi kreatif baru. “Sehingga bisa membantu kehidupan keluarga khususnya kaum ibu-ibu yang ada di Kampung Kamboja,” ujarnya.

Kepada para pengrajin, ia berpesan supaya memperhatikan kualitas produk batiknya. Yanieta juga menekankan supaya pengrajin tidak mengenal kata lelah dan patah semangat karena memang untuk belajar membatik membutuhkan waktu yang tidak sebentar. “Mudah-mudahan nanti batik-batik hasil dari pengrajin Kampung Kamboja bisa dipasarkan UMKM Center,” ungkapnya.

Selain kemahiran membatik, Yanieta menekankan pentingnya memperhatikan kualitas dari bahan yang digunakan sebab itu mempengaruhi hasil atau produk batik itu sendiri. “Kalau kualitas bahan yang digunakan bagus dan cara membatiknya juga bagus, Insya Allah hasilnya juga bagus,” imbuhnya.

Menurutnya, keberadaan Kelompok Pengrajin Batik Kampung Kamboja ini bisa menjadi salah satu destinasi wisata bagi wisatawan, baik domestik maupun asing. “Mereka bisa kita arahkan ke sini dan mudah-mudahan ini bisa menjadi role model bagi kecamatan-kecamatan lain,” tuturnya.Untuk semakin mempercantik Kampung Kamboja, Yanieta memberikan masukan untuk menghiasi dinding-dinding dengan cat mural sehingga bisa menjadi salah satu destinasi wisata. Seperti di Singapura, Jalan H Lane, di mana lorong-lorong kecil dihiasi dinding mural tetapi bisa menjadi viral di medsos. “Padahal kalau Kampung Kamboja ini kita buat sedemikian rupa dengan dinding mural, saya yakin tak kalah bagusnya dengan di Singapura,” terangnya.

Ketua Rumah Batik Kampong Kamboja, Utin Dina Anggraini menjelaskan, Rumah Batik Kamboja ini awalnya beranggotakan empat orang. Dalam perkembangannya bertambah menjadi 16 anggota. Berangkat dari keinginan untuk mengembangkan kemampuan masyarakat, terutama kaum perempuan dan untuk memaksimalkan waktu luang agar lebih produktif, maka dibuatlah program yang dimulai dari pelatihan hingga memproduksi sebuah produk kerajinan. “Dengan kebutuhan  pasar, yang mungkin menciptakan pasar baru untuk produk yang kami hasilkan. Untuk itulah program pelatihan batik tulis ini kami lakukan yang dimulai 16 Februari 2019 lalu. Hasil dari pelatihan itu bisa dilihat di sini. Kami juga akan menampilkan demo membatik,” papar dia.

Program yang direncanakan oleh Rumah Batik Kamboja ini, lanjut dia, dalam setahun terbagi dalam empat triwulan. Triwulan pertama belajar batik tulis, triwulan kedua belajar batik tulis dan cap, triwulan ketiga belajar menjahit pakaian jadi. Dan triwulan keempat belajar memproduksi tas, dompet dan cinderamata lainnya. “Program ini kami rancang bersama Forum Pemerhati Wisata Alam (FPWA) Kalimantan Barat, di mana instruktur, peralatan, bahan dan perlengkapan lainnya difasilitasi oleh FPWA Kalbar,” pungkasnya. (jim)

- Advertisement -

Comments
Loading...