Perbaikan BPJS Melalui Sistem Rujukan Online

0 92

BPJS Kesehatan saat ini sedang melakukan uji coba penerapan sistem rujukan online. Sistem baru ini diharapkan dapat meningkatkan pelayanan bagi pasien JKN.

Menurut saya sistem rujukan online tersebut adalah bagian dari proses perbaikan pelayanan JKN. Dengan sistem rujukan online ini FKTP dapat merujuk ke RS terdekat dengan pasien, dan RS yang dituju dapat menangani penyakit yang diderita pasien. Dengan sistem rujukan online ini pasien akan dimudahkan karen di RS tersebut nama pasien sudah terdaftar, dan pasien tidak perlu bawa surat rujukan lagi.

Saya menilai sistem rujukan online ini juga bisa untuk menekan biaya INA CBGs sehingga defisit bisa diturunkan.

Namun demikian sistem rujukan ini bisa berjalan dengan baik bila FKTP memiliki informasi lengkap tentang RS terutama tentang ketersediaan dokter spesialis, ketersediaan alat-alat kesehatannya, dan sebagainya. Hal ini penting karena bila FKTP tidak tahu kondisi RS maka FKTP akan merujuk ke RS yang salah sehingga pasien hanya dirawat sehari kemudian dirujuk lagi.

Ini yang menyusahkan pasien dan membengkakkan INA CBGs. Bagi pasien yang menunggak, dengan adanya rujukan lagi ke RS lain maka pasien akan bayar denda lagi.

Kalau memang pasien dgn jenis penyakit harus dirujuk ke RS tipe B atau tipe A maka seharusnya sistem rujukan online ini pun langsung merujuk ke RS tipe B atau A tersebut, tanpa harus melalui RS tipe C.

Tentunya dengan sistem rujukan online ini maka FTKP juga seharusnya mengetahui kondisi daftar tunggu pasien JKN di RS yang akan dirujuk, sehingga tidak ada penumpukan pasien apalagi pasien harus diperiksa beberapa hari kemudian.

Hal ini terjadi pada diri saya sendiri. Ketika saya dapat surat rujukan dari Puskesmas Makassar Jakarta Timur, saya dirujuk ke RS Budi Asih. Ketika keesokan harinya 14 agustus 2018 saya sampai jam 9.30 di RS Budi asih ternyata saya tidak bisa diperiksa karen pasien sudah banyak.

Saya disuruh mendaftar saja untuk mendapat giliran di hari hari berikutnya. Karena akan menunggu lama akhirnya saya berobat pakai umum saja di RS lain. Surat rujukan tidak saya pakai.

Di RS Budi Asih juga, ternyata ada seorang bapak yang dirujuk ke RS Budi Asih tapi tidak bisa diperiksa hari itu karena pasien sudah penuh, dan si Bapak tua mendapat giliran di tanggal 28 Agustus 2018. Si Bapak tua mengeluh dan pasrah saja, padahal penyakitnya cukup serius.

Saya kira sistem rujukan lama sangat menyusahkan pasien. Oleh karenanya saya berharap sistem rujukan online bisa mengetahui kondisi RS sehingga pasien ketika dirujuk bisa langsung ditangani, tidak lagi menunggu berhari-hari untuk diperiksa.

Dengan sistem rujukan online ini pun, seharusnya tidak ada lagi persyaratan kembali ke FKTP untuk mendapat rujukan lagi. Dengan sistem online ini FKTP dapat mengetahui kondisi pasien yang dirawat di RS.

Antara RS dan FKTP ada komunikasi yang berkesinambungan tentang pasien yang dirujuk. Sistem rujuk balik bagi pasien cuci darah, anak berkebutuhan khusus serta penderita thalasemia tentunya akan menyusahkan pasien.

Penyakit tersebut akan terus diderita pasien sehingga tidak perlu rujuk balik. Risiko adanya rujuk balik adalah pasien akan berpotensi dirujuk ke RS yang lain, padahal si pasien sudah nyaman di RS sebelumnya.

Denga sistem rujukan online ini pun BPJS bisa mengontrol rujukan yg diberikan oleh FKTP. Di akhir Mei 2018 ini data rujukan nasional adalah sekitar 17%, naik dari tahun 2017 yang sekitar 12,5%. Saya kira BPJS harus tetap mengontrol rujukan online ini yang memang terkoneksi juga dgn BPJS Kesehatan. Dengan menurunkan tingkat rujukan maka INA CBGs dapat terkendali.

Nah terkait masih ada 11,2% FKTP di Indonesia yang belum tersedia jaringan online maka sebaiknya FKTP tersebut disediakan dulu jaringan online. Pemda harus menyediakannya. Jaringan online ini pun harus masuk item2 yang dicredensialing oleh BPJS Kesehatan.

Jadi menurut saya sistem rujukan online ini baik utk memudahkan pasien. Tinggal bagaimana keseriusan BPJS dan FKTP serta RS mendukung sistem ini. RS harus membuka informasi tentang jumlah pasien yang sedang diperiksa atau rawat. FKTP juga harus profesional dalam memberikan rujukan.

Sistem rujuan online ini juga akan mendukung kampanye pengurangan penggunaan kertas, mengarah pada paperless society. Tabik.

Timboel Siregar
Pinang Ranti, 3 September 2018

- Advertisement -

Comments
Loading...