banner 728x250

Aplikasi Ini Bisa Memantau Satwa Liar dan Peredarannya

  • Share
banner 468x60

 

banner 336x280

INIBORNEO, Pontianak – Ancaman serius terhadap keberlangsungan hidup satwa liar di alam adalah kehilangan habitat dan perburuan untuk diperdagangkan, dipelihara maupun dikonsumsi. Salah satu penyebab utama dari penurunan jumlah populasi satwa liar di Kalimantan Barat. Penyebab utamanya adalah eksploitasi melalui perburuan untuk tujuan perdagangan, pemeliharaan, dan konsumsi. Penyebab lainnya adalah fragmentasi habitat akibat deforestasi yang disebabkan kebakaran hutan dan lahan, pembalakan liar, dan konversi hutan menjadi areal budidaya.

Berdasarkan hasil pemantauan Yayasan Titian Lestari, periode Maret 2017 hingga Februari 2018, di Kalimantan Barat tercatat sedikitnya 136 kejadian peredaran satwa liar terdiri dari perdagangan 86 kejadian, pemeliharaan 26 kejadian, perburuan 18 kejadian dan kepemilikan bagian tubuh satwa liar 6 kejadian.

Masih banyak praktek-praktek peredaran satwa liar hasil tindak pidana dan konflik manusia dengan satwa yang belum terdeteksi dan dapat ditangani oleh instansi yang berwenang. Hal ini karena beberapa kendala, yakni; lokasi kejadian yang jauh dan sukar dijangkau sehingga informasi atau laporan dari masyarakat di tempat kejadian tidak bisa secara cepat sampai ke lembaga yang berwenang, modus operandi tindak pidana yang berubah-ubah, keterbatasan sumber daya manusia dan dana yang ada di instansi tersebut.

“Untuk menjembatani dalam mengurangi beberapa hambatan dan kendala tersebut Yayasan Titian Lestari bekerjasama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimatan Barat dan Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BPPHLHK) Kalimantan mengembangkan “Sistem Informasi Pemantuan Peredaran Satwa Liar Berbasis Website dan Aplikasi Android” dengan dukungan pendaan sepenuhnya oleh Tropical Forest Conservation Art (TFCA) Kalimantan,” Sulhani, direktur Yayasan Titian Lestari.

Dia menjelaskan tujuan utama dari kegiatan peluncuran dan sosialisasi ini untuk memperkenalkan aplikasi dan harapannya akan ada partisipasi dari publik untuk menginput data ke sistem dengan melaporkan kejadian tindak pidana satwa liar maupun kejadian perjumpaan satwa liar di alam yang terjadi disekitar lingkungannya.

M. Syukur Wahyu Putra, project Manager Yayasan Titian Lestari menambahkan, kegiatan ini dihadiri Rudianto Saragih Napitu, S.Si, M.Si (Kasubdit Pencegahan Pengamanan Kehutanan Wilayah IV pada Ditjen Gakum KLHK) sebagai key note speaker dengan tema “Arah Kebijakan dan Strategi Perlindungan Satwa Liar di Indonesia”.

Pembuatan aplikasi ini juga melibatkan pihak terkait lainnya seperti; BKSDA Kalimantan Barat, BPPHLHK Kalimantan, TFCA Kalimantan, Kepolisian Daerah Kalimantan Barat, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, Pemerintah Kota Pontianak, Pemerintah Kabupaten Kubu Raya dan Kabupaten Mempawah, Kepolisian Daerah Kalimantan Barat, Kejaksaan Tinggi Kalimantan Barat, Pengadilan Negeri, Bea Cukai, Polairud, akademisi, Balai Karantina, perusahaan ekspedisi, LSM dan masyarakat di Kota Pontianak serta Kabupaten Kubu Raya dan Mempawah.
Dengan aplkasi ini sudah dapat diunduh di playstore dengan nama “Borneo Wildlife Care”.

“Untuk selanjutnya kami akan melakukan roadshow ke 14 kabupaten/kota di Kalimantan Barat untuk mensosialisasikan dan memperkenalkan aplikasi ini kepada masyarakat,” tambahnya.

Yayasan Titian Lestari adalah organisasi niralaba berkedudukan di Pontianak, berfungsi mendorong pengelolaan sumber daya alam yang memastikan kelestarian ekosistem guna mendukung sumber-sumber penghidupan bersama masyarakat, sektor swasta dan pemerintahan melalui praktek pengelolahan sumber daya alam terbaik dan pemberdayaan masyarakat di Indonesia. (R)

 

banner 336x280
banner 120x600
  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *