OTG Hampir Tak Terkendali, Kadis Kesehatan Minta Selalu Patuhi Prokes

0 630

INIBORNEO.COM, Pontianak – Kasus ditemukannya Orang Tanpa Gejala (OTG) Covid-19 di tempat-tempat umum di Pontianak sudah hampir tidak “terkendali”, hal ini disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak Sidiq Handanu. Ia mengatakan bahwa masyarakat harus ketat dalam menerapkan protokol kesehatan.

“Saat kami (Satgas Covid-19) melakukan razia Prokes di tempat-tempat kerumunan warga, dan dari tes cepat serta tes usap ditemukannya kasus positif Covid-19 dengan OTG,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa Tim Satgas Covid-19 kembali mengadakan tes cepat di sejumlah warung kopi (warkop) dan kafe di Kota Pontianak, dari hasil pemeriksaan terhadap 120 orang pengunjung dan karyawan warkop , ditemukan 14 orang reaktif.

“Mereka langsung kita tindak lanjuti dengan pemeriksaan lanjutan (SWAB) dan hasilnya paling lambat dapat kita ketahui 3 hari setelah pemeriksaan,” katanya.

Sidiq menjelaskan bahwa sebelumnya pemeriksaan serupa sudah dilakukan pada titik-titik kerumunan seperti warkop dan kafe, hasilnya menunjukkan bahwa pada tempat kerumunan memang berpotensi penularan Covid-19.

“Tidak hanya di warkop atau kafe, di GOR juga kami temukan ada yang terkonfirmasi positif Covid-19,” ujarnya.

Hal ini kata Sidiq, sebagai gambaran bahwa orang tanpa gejala dengan kasus konfirmasi positif Covid-19 sudah hampir tak terkendali. Untuk itu, dirinya menghimbau kepada semua masyarakat untuk terus waspada jika berada di tempat umum khususnya ditempat yang ramai. “Selalu ikuti protokol kesehatan secara ketat,”tegasnya.

Ia menyebut, berdasarkan laporan terakhir Pontianak masuk zona orange tetapi dengan nilai yang sangat minimal. Zona orange indikator nilainya dari 1,9 hingga 2,4, sementara Kota Pontianak berada pada nilai 2, artinya, jika terjadi peningkatan kasus sedikit saja maka berpotensi kembali lagi ke zona merah. “Ini yang harus menjadi perhatian kita semua bagaimana tetap disiplin dalam menjalankan protokol kesehatan,” kata Sidiq.

Dia menambahkan, untuk menuju zona kuning minimal jumlah penularan kasus per hari harus diturunkan lima puluh persen dari kondisi sekarang, sehingga memerlukan kesadaran dari semua pihak, bukan hanya masyarakat tapi juga pemilik usaha. “Tanpa ada peran serta dari pemilik usaha seperti tempat hiburan, kafe, restoran dan lainnya jika tanpa pengawasan maka sulit untuk masuk ke zona kuning,” katanya.

Sidiq juga mengimbau kepada pemilik usaha untuk membatasi kapasitas ruangan paling maksimal 50 persen, guna mencegah adanya penyebaran COVID-19.

Sementara itu, Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengatakan, pihaknya melakukan pembatasan-pembatasan skala kota sebagai upaya memutus mata rantai penyebaran COVID-19, terlebih dengan adanya instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 6 tahun 2020 tentang Penegakan Protokol Kesehatan Untuk Pengendalian Penyebaran COVID-19.

“Dalam instruksi itu kepala daerah bisa dikenakan sanksi apabila tidak melaksanakan aturan protokol kesehatan. Saya sebagai Wali Kota wajib untuk menyampaikan ini,” katanya.

Menurut dia, dari aktivitas masyarakat pasti akan terjadi interaksi dan mobilitas, baik antar daerah lokal, regional maupun internasional. Sementara itu, berkaitan dengan COVID-19 harus menerapkan pembatasan fisik dan sosial, namun demikian yang menjadi perhatian adalah bagaimana ekonomi tetap berjalan tetapi tetap aman dari COVID-19.

“Apalagi Pontianak saat ini masih berada pada zona orange. Berdasarkan pengalaman kita harus cerdas untuk seiring sejalan sehingga ekonomi bisa bergerak tetapi tetap taat terhadap protokol kesehatan,” pungkasnya.

Comments
Loading...