Menulis Bisa Jadi Terapi

Dari "Tempo Media Week 2019"

0 77

INIBORNEO, Jakarta – Menulis bisa memberikan manfaat bagi pelakunya. Salah satunya sebagai terapi, karena merupakan kegiatan untuk meluapkan isi hati.

“Setiap orang pasti bisa menulis karena tidak dibutuhkan kemampuan khusus untuk melakukannya. Dengan mencurahkan isi hati lewat tulisan, ini akan sangat melegakan,” kata penulis Debra Yatim dalam acara “Tempo Media Week” di Jakarta pada Sabtu, 7 Desember 2019, seperti ditulis Tempo.co.

Jika ingin mencoba mendapatkan manfaat dari menulis sebagai terapi, Debra pun membagikan beberapa tips. Pertama, ia mengatakan menulis wajib diiringi dengan jadwal. Itu berarti, Anda harus memiliki waktu khusus untuk meluapkan isi hati.

Contohnya, apabila sibuk bekerja dari Senin sampai Jumat, mungkin Sabtu adalah waktu yang tepat untuk menulis.

“Jadwalkan juga jamnya. Misalnya jam 2 hari Sabtu. Latihan ini memberikan manfaat menulis sebagai terapi yang lebih maksimal,” ungkapnya.

Selanjutnya, gunakan metode suka-suka alias tulisan bisa dengan bebas dimulai dan diakhiri kapan saja. Debra juga mengatakan bahwa ini tak perlu terstruktur layaknya menulis novel dengan alur cerita.

“Karena tujuannya untuk terapi, tidak perlu harus dimengerti. Tulis saja sebebasnya. Apa yang membuat Anda marah atau terkesan,” jelasnya.

Menggunakan musik sebagai teman untuk menulis juga disarankan oleh Debra. Ia mengatakan bahwa musik bisa membantu menenangkan pikiran sehingga tulisan yang dihasilkan lebih baik lagi.

“Pilihan musiknya tentu bukan bebas, namun yang buat rileks seperti di toko buku begitu,” tegasnya.

Terakhir, menulis dengan jarak pun sangat diimbau. Menurut Debra, banyak orang meluapkan kekesalan di saat yang bersamaan dengan menulis. Alih-alih lega, hal ini justru bisa membuat seseorang terjebak dalam masalah yang sedang dihadapi.

“Harus diberi jarak. Tenangkan pikirkan, baru menulis. Jadi menulisnya saat kilas balik sambil memaafkan,” tuturnya.

Comments
Loading...