Ketersediaan Vaksin Dorong Pertumbuhan Ekonomi Positif

0 54

INIBORNEO.COM, Pontianak – Ketersediaan vaksian untuk mencegah penyebaran Covid-19 di Indonesia memberikan rasa optimis kepada investor. Hal ini menjadi pemicu pergerakan perekonomian menuju pemulihan.

“Pertumbuhan ekonomi positif akan dimulai pada kuartal I 2020, didorong oleh ketersediaan vaksin. Namun patut diingat penerapan protokol kesehatan (prokes) 3 M juga ikut menjadi kunci pemulihan ekonomi tahun depan,” tukas, Ekonom UOB Indonesia, Enrico Tanuwidjaja, Forum Komunikasi Bank Indonesia dan Media Massa Kalimantan Barat Tahun 2020, di Gardenia Kubu Raya, Selasa 15 Desember 2020.

Penegakan penerapan protokol kesehatan di seluruh Indonesia, akan mendukung penuh pemutusan mata rantai penyebaran Covid-19. Jadi tidak hanya bergantung pada vaksin saja. Namun, pengadaan vaksin memang menjadi solusi, walau membutuhkan waktu yang cukup panjang bagi pemerintah Indonesia untuk menjalankan vaksinasi secara menyeluruh.

“Beda dengan Singapura yang penduduknya sedikit. Mungkin hanya butuh waktu 3 hingga 9 bulan saja,” tambahnya. Jika dikalkulasikan dengan jumlah seluruh penduduk Indonesia, paling cepat membutuhkan waktu 3 tahun untuk menciptakan Herd Immunity.

Dia berharap dengan vaksinasi maka yang mendapatkan vaksi tentu ikut melindungi orang di sekitarnya. Sampai menunggu proses yang cukup panjang ini maka diperlukan untuk setiap melakukan penerapan protokol kesehan 3 M yaitu memakai masker, menjaga jarak serta mencuci tangan.

Enrico menambahkan, saat ini kebijakan pemerintah sudah saling bersinergi untuk mendukung pemulihan ekonomi. Contohnya, suku bunga rendah bagi perbankan, lalu mengencarkan digital payment, maka bukan tidak mungkin ekonomi akan membaik.

Begitu pula dengan penyaluran dana pemulihan ekonomi nasional (PEN) yang sudah berjalan baik, meski penyerapan belum 100 persen. Saat ini, penyaluran bantuan UMKM sudah mencapai 84,1 persen, namun masih terkendala dengan keterbatasan bank penyaluran.

“Menurut saya nanti akan lebih ditingkatkan kembali,” ungkap Enrico. Hanya saja, penting untuk menjadi catatan pemerintah agar menaruh perhatian pada usaha menengah dan korporasi besar. Pasalnya dua bisnis ini memiliki penyerapan pekerja dengan jumlah besar.

Pemerintah dapat membantu perusahaan besar untuk tetap bertahan lewat restrukruturisasi utang atau pun insentif usaha lainnya. “Hal ini akan menciptakan confident bagi perusahaan dan juga bagi si pekerja,” katanya.

Stimulus yang diberikan kepada pekerja, ternyata belum bisa menggerakkan sektor konsumsi karena adanya kecenderungan masyarakat untuk menahan diri dengan situasi saat ini.

ASEANTY PAHLEVI

Comments
Loading...