Kalbar Jadi Daerah Pertama Di Wilayah Kalimantan Operasikan PLTBm

0 230

PONTIANAK- Pemerintah bersama Perusahaan Listrik Negara (PLN) terus berkomitmen dalam mengejar target bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) 23 persen pada tahun 2025. Hal ini disampaikan langsung oleh GM PLN Wilayah Kalimantan Barat, saat peresmian Commercial Operation Date (COD) proyek Pembangkit Listrik Tenaga Bio massa (PLTBm) di daerah Wajok Hulu, Kecamatan Siantan, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat pada Selasa (24/4).

Pengembangan energi baru terbarukan menjadi salah satu prioritas PLN terutama di regional Kalimantan untuk menggantikan pembangkit yang menggunakan bahan bakar minyak/diesel. Saat ini di Wilayah Kalimantan Barat, presentase pembangkit yang masih menggunakan minyak sebagai bahan bakarnya masih sebesar 44 persen.

Perjanjian jual beli tenaga listrik ini menggunakan skema Build, Own, Operate, Transfer (BOOT) yang mana apabila perjanjian yang telah disepakati bersama dengan kontrak 20 tahun habis, maka pembangkit ini akan menjadi milik PLN, skema tersebut menjadi yang pertama di Kalimantan.
“Dengan beroperasinya pembangkit ini akan memperkuat pasokan listrik di Sistem Khatulistiwa dan menggantikan beberapa pembangkit listrik tenaga diesel yang beroperasi sebelumnya. Ini juga merupakan prestasi bagi kami dan mitra kerja yang profesional menjadikan pembangkit ini yang pertama kali di Kalbar yang menggunakan skema jual beli BOOT”, ungkap Richard.
Ia juga menambahkan bahwa pihaknya telah membangun jaringan untuk mensuplai Sistem Khatulistiwa. “Kami sudah membangun jaringan listrik tegangan menengah (JTM) 20 kilo-volt sepanjang 5,65 kilo meter sirkit (kms) menuju titik interkoneksi di Gardu Induk (GI) Siantan. Langkah ini sebagai komitmen kami dalam mendukung program pemerintah dan menjalankan bisnis yang berwawasan lingkungan,” tambahnya.

Pembangkit yang mulai dibangun pada Desember 2016 ini menggunakan bahan bakar dari energi baru terbarukan, yakni cangkang sawit, sekam padi, tongkol jagung, ampas tebu, serbuk kayu dan limbah pertanian lainnya. Harga material tersebut berkisar Rp 600/kg. Diperkirakan kebutuhan bahan bakar untuk memproduksi energi listrik setahunnya sebanyak 98.400 ton per tahunnya.

Direktur utama PLTBm PT Rezeki Perkasa Sejahtera Lestari, Dunken Kuncara mengatakan, dalam membangun pembangkit ini pihaknya telah bekerjasama dengan dinas kehutanan dan organisasi terkait lainnya guna menjaga keberadaan energi primernya. “Continuitas suplai bahan baku harus kami pastikan, dan langkah yang kami ambil adalah menjalin kerjasama dengan pengusaha Perkebunan Kelapa Sawit (PKS) yang berada tersebar di Provinsi Kalimantan Barat. Kedepannya akan dijalin juga kerjasama dengan pihak pemilik lahan untuk membuat koperasi demi meningkatkan perekonomian masyarakat lokal”, jelas Dunken.

Dunken juga menambahkan, dalam membangun PLTBm ini pihaknya menginvestasikan dana lebih dari Rp US$ 21 juta. “Dari total kapasitas terpasang 1×15 Mega-Watt, kami dan PLN sudah sepakat untuk menyalurkan sebesar 10 mega-watt terlebih dahulu sesuai power agreement yang sudah ditandatangani pada 2016 lalu,” ujarnya.

Pembangkit IPP milik PT Rezeki Perkasa Sejahtera Lestari ini memasok listrik sebesar 10 Mega-Watt atau sebesar 74 juta kilo watt hour (kWh) per tahun ke Sistem Khatulistiwa.

Comments
Loading...