Mewujudkan Energi Berkeadilan di Pulau Terluar Kalbar

0 83

Di penghujung bulan Oktober, membawa harapan bagi Bogy, nelayan di Pulau Maya, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat. Bogy adalah nelayan tangkap pesisir. Saat ini sudah memasuki musim ikan kembung. Dia bertekad, membawa ‘cuan’ lebih ke rumah, setelah tak lagi mendapatkan bahan bakar minyak dengan harga mahal.

“Alhamdulilah, terbantu sekali. Saya tak lagi pusing cari-cari minyak untuk melaut. Dulu, jangankan untung, bisa-bisa ‘pak-pok’,” ungkapnya, ketika dihubungi 24 Oktober 2020. Pak-pok adalah istilah dalam Bahasa Melayu. Artinya, tidak mendapat untung sama sekali, sementara modal awal habis. Bahkan, tak jarang Bogy merugi. Pasalnya, ikan belum juga dapat, kapalnya habis bahan bakar di laut. Lalu dia pun mengandalkan belas kasihan temannya untuk dipasok bahan bakar. “Kalau bahan bakar teman terbatas, kapal ditarik. Ndak enak juga, (karena) narik kapal saya, minyak kapal teman jadi boros,” katanya.

Dulu, bukan sekali dua Bogy dan kapalnya terombang-ambing di laut. Untungnya, sebagai antisipasi para nelayan selalu berlayar berkelompok. Mereka jadi bisa saling menjaga di laut. Rata-rata mereka nelayan pesisir. Jarak melautnya tak jauh. Kini, Bogy dan teman-temannya berburu ikan kembung di sekitar kepulauan Maya Karimata.

Ikan kembung biasanya memasuki musim puncak pada bulan Agustus sampai Desember. Ikan jenis ini akan mulai berkurang jumlahnya di bulan Februari atau Maret. Ikan kembung, atau dikenal masyarakat setempat dengan nama ikan gembung adalah ikan yang digemari warga Kalimantan Barat. Ikan laut merupakan sumber protein pokok, di samping ikan sungai. Harganya pun terjangkau.

Bogy telah empat bulan merasakan kemudahan mendapatkan Bahan Bakar Minyak di Pulau Maya. Terlebih harganya pun sama dengan harga BBM di ibukota Kalimantan Barat, Pontianak. Dulu dia selalu membeli dengan harga Rp9000 per liter. Saat langka, harganya bisa mencapai Rp12 ribu hingga Rp15 ribu.

Purnomo, Camat Pulau Maya pun, memastikan masyarakatnya menerima manfaat dari BBM satu harga tersebut. “Tak hanya nelayan, tapi juga para petani di pulau ini,” katanya. Para petani menerima manfaat BBM 1 harga, untuk bahan bakar alat mesin pertanian. Bahkan sudah ada angkutan mobil pick up untuk distribusi sembako dan hasil bumi warga. “Yang jelas, ekonomi masyarakat sangat terbantu,” katanya.

Bidang pertanian di Pulau Maya ini pun cukup maju. Belum lama ini,  Kelompok Tani (Poktan) Abdi Bumi Setia, Dusun Besar, menerima sertifikat pertanian organik dari Indonesia Organic Farming Certification (Incofice). Dengan sertifikat yang ada hasil pertanian tradisional masyarakat Pulau Maya telah diakui keorganikannya oleh suatu badan independen bidang tumbuhan organik yang berimbas pada meningkatnya harga jual petani padi organic.

Pulau Maya mempunyai karakteristik yang unik. Pulau ini merupakan pulau terbesar di Kepulauan Maya-Karimata, dengan luasan 112.000 hektar. Jarak antara Pulau Maya dengan pesisir Pulau Kalimantan kurang lebih 0.5 Km. Sebagian besar wilayah pulau ini berupa rawa yang ditumbuhi bakau.

Jarak tempuhnya dari Pelabuhan Sukadana, ibukota Kabupaten Kayong Utara ke Pelabuhan Desa Tanjung Satai, ibukota kecamatan Pulau Maya, bisa ditempuh dengan waktu 35 menit menggunakan perahu bermotor. Jika menggunakan kapal kelotok atau kapal kayu, waktu tempuhnya dua jam.

Kapal-kapal ini yang menjadi moda transportasi utama di Pulau Maya. Digunakan untuk disribusi barang, orang dan kendaraan. “Bisa jalan darat, tapi jarak tempuhnya empat jam dari Sukadana,” kata Pak Camat. Dulu BBM cukup langka. Masyarakat harus mengambil BBM ke Kecamatan Telok Batang atau Simpang Hilir. “Hingga saat ini belum ada masalah soal distribusi. Jika ada masalah kami berkoordinasi dengan bagian ekonomi di Pemda,” ujarnya.

Bupati Kayong Utara, Citra Duani, menegaskan agar pengawasan terhadap distribusi BBM satu harga ini harus optimal. “Tidak boleh ada yang memanfaatkan untuk kepentingan pribadi,” katanya saat dihubungi Tempo. Dia ingin semua pihak terlibat untuk memantau penyalurannya.

Pemilik SPBU Kompak, PT Dusun Maya Abadi pun diwanti-wanti untuk pengawasan ini. “Jangan sampai melakukan hal-hal yang dapat menimbulkan masalah, terutaa terkait pendistribusian,” katanya.

Pada pertengahan Juni lalu, tepatnya 17 Juni 2020, Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) berjenis kompak diresmikan di Pulau Maya. Peresmian dilakukan langsung oleh Bupati Kayong Utara, Citra Duani, Bersama Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) dan Pertamina wilayah Kalimantan Barat.

SPBU bernomor 66.788004 tersebut berlokasi di Desa Tanjung Satai merupakan salah satu bentuk realisasi dari BBM 1 Harga. Saat ini, terhitung telah beroperasi di 36 titik BBM 1 Harga di seluruh Kalimantan, di mana SPBU ini merupakan titik ke -1 untuk keseluruhan target yang ditugaskan kepada Pertamina untuk wilayah Kalimantan Barat pada tahun 2020.

Roberth MV Dumatubun, Reg. Manager Comm, Rel & CSR Kalimantan, mengatakan, sebagai BUMN yang bergerak dibidang energi, tentunya Pertamina mendukung penuh program dalam mewujudkan kemandirian energi dan penyemarataan harga BBM ke pelosok negeri. “Pada SPBU Kompak ini, terdapat fasilitas penyimpanan masing-masing 100 KL untuk produk premium, solar, dan pertalite,” ujarnya, dalam keterangan persnya.

Adanya penambahan SPBU Kompak di daerah Pulau Maya, sangat membantu perekonomian masyarakat yang dominan bermata pencaharian sebagai nelayan. Masyarakat tidak lagi merogoh kocek sebanyak Rp 15.000/liter untuk solar dan premium. Sekarang, masyarakat dapat menikmati harga premium dan solar dengan harga yang sama yaitu premium Rp 6.450/liter dan solar Rp. 5.150/liter.

Namun, distribusi ke salah satu pulau terluar di Kalimantan Barat ini bisa dibilang tidak mudah. Demi memenuhi kebutuhan masyarakat akan BBM, pihak  Pertamina harus menempuh perjalanan selama 12 jam melalui jalur laut, dari titik suplai Terminal BBM Pontianak. Tantangannya, terlebih jika musim gelombang tinggi dan cuaca buruk.

Awak kapal harus siap terombang ambing di laut, demi memastikan masyarakat mendapatkan BBM yang harganya sama dengan di perkotaan. “Namun, hal ini tentunya tidak menjadi alasan bagi Pertamina untuk terus mendistribusikan BBM ke lokasi,” kata Roberth lagi.

Sales Branch Manager II Pertamina Wilayah Kalbar, Avip Noor Yulian, ditemui 17 Oktober 2020, menambahkan, Kabupaten Ketapang merupakan wilayah yang cukup unik. “Ada perjuangan dan kisah tersendiri dalam melayani masyarakat. Terlebih luasnya dari Jawa Tengah,” katanya.

Ada titik-titik di mana tidak bisa didistribusikan dengan kapal atau mobil. Maka ditempuhlah mekanise double handling, di mana BBM tersebut dipindahkan dari moda distribusinya. BBM masuk ke drum-drum dan dibawa dengan perahu-perahu kecil. Baru kemudian dibongkar muat. “Pakai canting dan mesin yang diengkol operasinya. Ini banyak di daerah yang berada di tepian sungai,” katanya. Avip mengatakan, tentunya biaya distribusi menjadi lebih mahal. Namun demi keadilan energi di seluruh negeri, maka pelayanan menjadi hal yang utama.

Sebagai bentuk pelayanan untuk negeri, Pertamina berkomitmen melalui perannya dalam penyediaan energi yang mengaju pada prinsip ketersediaan (availability), kemudahan akses (accessibility), keterjangkauan (affordability), penerimaan (acceptability) serta berkelanjutan (sustainability). Kata Avip, Pertamina memastikan agar masyarakat mendapatkan rasa keadilan dalam menikmati energi dengan kualitas dan harga di penjuru pelosok tanah air.

Secara terpisah, Kepala BPH Migas M. Fanshurullah Asa, menambahkan tahun ini akan dibangun minimal 11 lokasi SPBU satu harga di Kalbar. Untuk Kalbar sendiri sampai dengan tahun 2024 akan dibangun sebanyak 26 titik. Setelah pulau Maya, SPBU satu harga lainnya akan dibangun di Pulau Karimata. “Sebanyak 2.000 nelayan di Pulau Maya, yang akan merasakan dampak positifnya” katanya, pada keterangan pers Pemkab Kubu Raya. Rinciannya, sebanyak 2.000 nelayan dan 500 kapal motor milik nelayan yang mendapat manfaat.

Sesuai dengan arahan Presiden, Program BBM 1 Harga ini akan dilanjutkan hingga tahun 2024. Ditargetkan terbangun 330 lembaga penyalur BBM 1 Harga, dan pada tahun 2020 ini akan dibangun 83 lembaga penyalur BBM 1 Harga.

ASEANTY PAHLEVI

Comments
Loading...