Aben Selamat Berkat Kepedulian Warga

0 86

INIBORNEO, Ketapang – Kepedulian dan pemahaman warga terhadap orang utan memegang peranan penting dalam pelestarian orang utan. Mengingat lebih dari 70 persen orang utan Kalimantan (Pongo pygmaeus) hidup di luar kawasan konservasi, perjumpaan orang utan dengan warga masyarakat bukan hal yang langka. Seperti kejadian yang dialami Idarno, warga Dusun Benatu, Desa Limpang, Kecamatan Jelai Hulu, Kabupaten Ketapang (7/12/19). Dia menemukan bayi orang utan tanpa induknya di tepi hutan konsesi perusahaan Hutan Tanaman Industri (HTI) di Desa Limpang. Menyadari bahwa orang utan adalah satwa dilindungi, Idarno menyerahkan orang utan ini ke kepala desa untuk selanjutnya diserahkan kepihak berwenang.

Kepala desa kemudian melaporkan kasus penemuan ini ke IAR Indonesia dan BKSDA Kalbar. Laporan diteruskan kepada tim Orang Utan Protection Unit (OPU) IAR Indonesia untuk melakukan verifikasi. Menindak lanjuti laporan hasil verifikasi, tim gabungan Wildlife Rescue Unit (WRU) Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Ketapang dan IAR Indonesia menerjunkan tim untuk menjemput bayi orang utan ini pada Senin (9/12/19).

Kepala Desa Limpang, Rono Reagen mengaku pihaknya memahami bahwa orang utan termasuk satwa dilindungi.  “Sebelumnya saya juga sudah menghimbau kepada warga di sini mengenai satwa-satwa apa saja yang tidak boleh diburu dan dipelihara oleh warga,” jelanya. Oleh Rono, bayi orang utan jantan berusia kurang dari 1 tahun ini dititipkan kewarga bernama Aben untuk dirawat, oleh karena itu, bayi orang utan ini diberi nama Aben.

Ketika ditemukan oleh warga, bayi orang utan ini mengalami demam, tetapi masih aktif dan masih mau makan. Oleh perawatnya, Aben diberi susu formula, selain itu Aben juga diberi makan nasi dan buah-buahan. Selama dirawat, Aben diletakan di dalam rumah dengan keranjang dan selimut.

Dari pemeriksaan singkat di lokasi oleh dokter hewan IAR Indonesia yang turut serta dalam kegiatan ini, Aben diduga mengalami demam karena suhu tubuhnya masih cukup tinggi. Saat ini Aben dibawa ke IAR Indonesia di Desa Sungai Awan Kabupaten Ketapang yang memiliki fasilitas pusat rehabilitasi satwa, untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Aben akan menjalani masa karantina selama 8 minggu sebelum bisa bergabung dengan orang utan lainnya. Selama masa ini, Aben akan menjalani pemeriksaan secara detail oleh timmedis IAR Indonesia. Pemeriksaan ini dilakukan untuk memastikan Aben tidak membawa penyakit berbahaya yang bisa menular ke orang utan lainnya di pusat rehabilitasi IAR Indonesia.

Pemahaman dan kesadaran warga masyarakat untuk melestarikan orang utan dan melaporkan patut diapresiasi.  “Kami berterima kasih kepada warga yang mengambil tindakan tepat dengan melaporkan perjumpaan ini kepada pihak yang berwenang dan kami juga senang melihat adanya peningkatan kesadaran dan pemahaman masyarakat mengenai orangutan, bahkan di daerah yang jauh dari pusat kota sudah bisa dirasakan”. ujar Karmele L. Sanchez, direktur program IAR Indonesia. Ia juga mengatakan “Di ketapang sendiri, jumlah orang utan pemeliharaan yang direscue oleh BKSDA dan IAR di tahun 2019 sudah jauh menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya “.  Katanya.

Lebih jauh Karmele L. Sanchez menambahkan, “ IAR sudah lama bekerja sama dengan perangkat desa, dan tokoh masyarakat, tim edukasi dan tim OPU, tokoh agama dan budaya, aparat kepolisian dan TNI serta pemerintah daerah secara keseluruhan, dan kami sangat mengapresiasi fakta bahwa masyarakat Kabupaten Ketapang sudah sangat sadar dan mengerti bahwa orang utan adalah aset dan perlu dilestarikan sehingga jumlah orang utan yang dipelihara semakin menurun”. jelasnya. “Target kita adalah suatu saat tidak ada lagi orang utan yang perlu diselamatkan. Kalau hal ini dapat terwujud, Ketapang akan menjadi contoh dan kebanggaan. Kami telah beberapa kali melakukan sosialisasi dan edukasi masyarakat di beberapa desa di sekitar lokasi kam seluruh dunia, karena orang utan adalah spesies yang diperhatikan secara global,” tambahnya.

Kepala BKSDA Kalbar, Sadtata Noor Adirahmanta turut mengapresiasi tindakan warga desa Limpang.  “Apresiasi kami berikan kepada warga masyarakat atas kesadarannya melaporkan dan menyerahkan temuan satwa liar dilindungi kepada aparat berwenang. Memang sudah semestinya bahwa upaya-upaya konservasi melibatkan peran masyarakat sebagai ujung tombak guna mewujudkan pelestarian satwa liar yang optimal,” ujarnya*

Comments
Loading...